Rahmat&Rizki

Testimoni & Penyemangat

Tulisan-tulisan yang dihadirkan oleh para tokoh, sahabat, karib kerabat yang ingin berbagi insprasi dan motivasi pada kita semua. 
Bagi yang ingin mengirimkan buah karya tulisannya dapat dikirimkan ke email : arrahmat.hida@gmail.com dengan Subject : Wedding Testimonial. Dan jangan lupa untuk melampirkan foto yang ingin ditampilkan .
Semoga bermanfaat buat seluruh pembaca

Afifah Afra

Afifah Afra

Tinggal di Solo, Penulis

Catatan Afifah Afra : Rahasia Jodoh

Makhluk yang pertama kali Dicipta Allah adalah al-qalam. Dengan al-qalam, Allah menuliskan takdir manusia dalam Lauhil Mahfuzh, induk segala kitab. Salah satu yang tertulis di sana, adalah jodoh. Jadi, jodoh adalah sebuah ketetapan dari Allah Azza wa Jalla. Ia akan datang, meskipun saat ini barangkali kita belum siap, atau tak juga datang meskipun kita merasa sangat siap. Seorang guru saya pernah mengatakan, pernikahan itu ibarat kematian, kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan.
Jadi, sikap terbaik menghadapi hal yang satu ini adalah TAWAKAL. Tetapi, jangan abaikan ikhtiar. Ikhtiar sangat perlu, hanya saja, Allah memiliki sifat Qudrat dan Iradat yang perlu kita hadapi dengan kepasrahan.

Ada beberapa pandangan saya mengenai pernikahan, semoga bisa menjadi bahan diskusi.

1. Pernikahan adalah bentuk ibadah, jadi jangan pernah ada kata ITSAR dalam pernikahan. Jika ada seorang meminang, dan secara dien dia baik, kemudian kita merasa mantap, mengapa kita menolaknya?

2. Sebuah ibadah, bisa diterima atau tidak, tergantung NIAT dan cara pelaksanaannya. Maka, nikah bukanlah akhir dari perjalanan hidup seseorang. Ia bahkan awal dari sebuah perjalanan yang melelahkan. Niat bisa berubah di tengah-tengah proses, bahkan menjelang akhir proses, kematian. Maka, mari kita selalu meng-up-grade niat, dan memperbaiki cara kita berinteraksi dengan pasangan kita, meski usia pernikahan sudah tak terbilang muda. Lima tahun, sepuluh tahun, tiga puluh tahun?

3. Nikah adalah separuh dien. Jika baik, ia adalah separuh jalan menuju surga. Tetapi jika buruk, maka… ia adalah separuh jalan menuju neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

4. Nikah bukanlah sebuah pesta pora. Bukanlah prestasi. Bukanlah sebuah kemenangan. Bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Jadi, jagalah sikap kita. Seringkali para pasangan muda terlalu over memamerkan kemesraannya di hadapan orang-orang yang masih lajang.

5. Ketika kita menikah, amanah kita bertambah. Ketika punya anak, semakin bertambah lagi. Maka, hisab kita di akhirat kelak, akan semakin panjang. “Bagaimana kau bersikap terhadap pasanganmu, anak-anakmu, mertuamu, adik-kakak iparmu, dst…” Jadi, wahai para lajang, yang telah ingin menikah namun karena takdir Allah, pasangan belum datang, sesungguhnya beban antum wa antunna kelak di akhirat, jauuuuuh lebih ringan daripada para ibu, para bapak, yang kerepotan dengan anak-anak mereka. Bukankah Surga itu jauh lebih indah daripada apapun? Bukankah surga, dan ridha-Nya, adalah tujuan utama setiap manusia? Sedangkan menikah, berkeluarga, hanyalah sarana. Ketika Allah menakdirkan kita untuk tetap lajang, sesungguhnya jika kita ridho, maka kita Allah telah memberikan beban yang lebih ringan untuk menuju surga.

6. Akan tetapi, menikah tetaplah harus diusahakan. Ikhtiar harus dioptimalkan. Maka para ikhwan, mari berusaha lebih kuat dalam mencari ma’isyah. Ayo bekerja lebih keras lagi dalam meng-up grade diri. Jangan bermalas-malasan. Lihatlah deretan para akhwat yang tengah menanti… kasihan sekali mereka karena antum seringkali terlalu banyak pertimbangan. Ayo bina para lelaki yang lain, agar mereka bisa seshaleh antum, karena bagaimanapun juga, populasi lelaki shaleh saat ini begitu sedikit dibanding perempuan shalihah. Dan para perempuan shalihah, ayo perkuat diri kita. Bersiaplah menjadi Ummu Sulaim-Ummu Sulaim baru, yang mampu menghijrahkan Abu Thalhah dan menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahan mereka. Dan wahai para murabbi dan murabbiyyah… marilah kita berpikir lebih keras… lebih keras dan lebih keras lagi… agar kita mampu mengikhtiarkan perjodohan saudara-saudari kita, dengan proses yang indah dan bersih.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Al Faqir ilallah
AFRA

Afifah Afra, Penulis. Salah satu karyanya yang terkenal adalah De Winst

Rita Rhoy Kana

Rita Rhoy Kana

semarang, central java

quote from murabbiyah:

Menikah adalah proses panjang untuk selalu belajar saling mengerti, menerima, dan mencintai. Menikah di jalan Allah yang menjaga seluruh proses itu tetap berada dalam relnya. Sehingga seberat apapun proses itu tetap bisa dilewati hingga ujung perjalanan nanti. Love you amah ii..:*

Aida Hanifa

Aida Hanifa

bekasi, west java

quote from bestfriend:

Pada akhirnya, pernikahan itu seperti sebuah pohon. Setiap hari menyesap air di tanah, sembari merambahkan akar. Walau daun berguguran pula setiap hari, tapi selalu ada pucuk baru yang tumbuh. Pohon dengan tanah yang baik dan cukup air, akan terus besar dan berbuah. Pohon dengan tanah yang tandus dan jelek, tak kuat menjalarkan akarnya. Tiap daun yang gugur tak diganti dengan pucuk yang baru. Tak berbuah pula.

Tanah itu adalah... KEIMANAN.

penulis adalah sahabat dari Rosyida Azis Rizki bernama Aida Hanifa, seorang bunda shalihah ^_^

Devi Indah Anwar, M. Sc.

Devi Indah Anwar, M. Sc.

Sukabumi

quote from postgraduate's bestfriend:

cinta istimewa apabila kita

memberikannya pada seseorang yang

layak menerimanya
karena cinta bukanlah mencari orang

yang sempurna
tetapi menemukan seseorang yang

mampu menjadikan diri kita sempurna
bukan merasa lebih antar satu sama

lain
tetapi saling melengkapi, menasehati

dan memberi semangat baru
cinta tumbuh bukan dari paras

menawan, tetapi dari kebaikan hati dan

dan keterbukaan hati untuk menerima

seseorang
menerima kelebihan untuk disyukuri

dan dijadikan motivasi menjadi lebih

baik
menikah itu tidak sekedar bahagia,

namun bersama menuju surga

Maryanto, S.Si

Maryanto, S.Si

Tinggal di Jakarta

Dari Sahabat Terbaik  

Pernikahan bukanlah sebuah akhir pencarian, tapi merupakan awal dari serangkaian proses pembelajaran. Belajar dalam hal menerima keterbatasan, belajar dalam mengakui kelebihan, belajar dalam bersyukur dan belajar dalam merangkai harapan dan tujuan dari hidup, Surga-NYA. 

*Penulis adalah Sahabat terbaik Rahmat, sejak pertama masuk kuliah di jurusan fisika undip, sahabat berorganisasi di tataran jurusan, fakultas sampai universitas. Sahabat ngaji selama masa-masa kampus.

Fitrilia Silvianti, M. Sc.

Fitrilia Silvianti, M. Sc.

Yogyakarta

Testimoni untuk kiki…..

‘Cinta’ itu bukan hanya tentang ‘aku dan kamu’, tapi juga tentang ‘mereka, mereka, dan mereka’ sebagai variabel bebas yang berenergi cukup untuk mengikat. (quotes originally by Fitrilia Silvianti^^) Finally you got it dear… Congrats… Pernikahan…. Semua orang bisa menjalaninya, menikmatinya bahkan memporak-porandakannya. Pernikahan bukan sebuah keinginan, namun sebuah KEBERANIAN untuk mengambil TANGGUNG JAWAB dan KESIAPAN untuk berjuang. Bisa juga menjadi sebuah pilihan. Sebab ada banyak cara untuk sekedar menunjukkan rasa simpati, kasih sayang dan cinta. Pernikahan menjadikan kita belajar banyak hal bahwa PERKENALAN adalah suatu PROSES PANJANG yang tak pernah lekang dan terbatas oleh waktu. Bahwa pasangan kita adalah MANUSIA BIASA yang punya potensi hina dan mulia, seperti juga kita. Pernikahan menjadikan kita mengevaluasi diri, bukan untuk menjadi malaikat, bukan juga hanya untuk sekedar bahagia. Pernikahan adalah keikhlasan, untuk memberi dan melakukan kebaikan. Mendahului memaafkan, mendahului bertindak mulia.. Hingga tak ada yang merasa terdzalimi, karena semua hak telah terpenuhi, keseimbangan telah terjiwai. Menyatu dalam IKATAN yang di ridhai Allah Arrahman, Sang Pemilik Cinta Sejati. -Robi'ah Al-adawiyah Taken from "Diary Pengantin"-

Nindya Galuh Kartikawati

Nindya Galuh Kartikawati

Jakarta

Testimoni sahabat, 

assalamu'alaikum...
akhirnya.. aku terima juga undangan dari kembaranku.. hehehe.. (sama-sama lahir tanggal 15 april 85 kan pak? :D)

hmmm.. mungkin tulisan ini berbeda dari yang lainnya.. tapi, semoga bisa menginspirasi...

ketika Rahmat bertemu dengan Rizki..
ketika Rahmat-Nya bertemu dengan Rizki-Nya..
Subhanallah ya..

wassalamu'alaikum..

Ahmad Nur Sodik

Ahmad Nur Sodik

Tinggal di Jakarta

Dari sahabat terbaik

Subhanallah..... barokallah ya akhi....
Ane yakin separuh kehidupan telah engkau dapatkan sejak ant terlahir ke dunia dimana separuhnya lagi akan ant dapatkan setelah ijab qobul ant ucap & ikrarkan dan itu adalah pintu besar dari kesempurnaan dunia dan akhirat.
Dan Allah akan cukupkan rezekimu.
Dia adalah rantai penghubung antara dunia ini dan dunia akan datang serta kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan.
Dia adalah sebatang pohon tertanam di lembah sungai keindahan yang memikul buah ranum bagi hati lapar yang mencari karena Allah

***Penullis adalah salah satu sahabat terbaik dari rahmat. Sama-sama melalui pahit manis dan getirnya perjuangan di lembga kampus dan perjuangan dakwah entrepreuneurship. Saat ini menjadi engine di IIBF dan ikut ambil peranan penting dalam Gerkan Beli Indonesia.

Retno Widowati

Retno Widowati

Semarang

Subhanallah….barakallah akh rohmat n ukh rizki…
FIM mantu nih 
"Barakallahulaka wabaraka 'alayka wajama'a baynakuma fii khoir"

Semoga kalian berdua mampu saling melengkapi, saling berbagi dan saling menguatkan dalam menjalani setiap rentetan kisah-Nya hingga barakah menyapa….

Ada kata-kata bagus dari milis sebelah….

Kepada pria-pria akhir zaman...
Jangan kau harapkan sebuah kesempurnaan kepada wanita yang akan kau jadikan pasangan
Karena wanita juga punya keterbatasan
Ingatlah...
Wanita yang akan kau nikahi tak setangguh khadijah...
Yang mengorbankan apapun untuk kekasih Allah
Ia tak seperti aisyah yang luar biasa kecerdasannya
Ia juga tak sesholehah Fatimah Azzahra
Karena ia hanya wanita akhir zaman
Yang tentu memiliki banyak kesalahan dan dosa
Ia hanya ingin mendampingimu dengan sederhanaan yang dimilikinya
Menjadi satu-satunya hawa dalam duniamu
Menemanimu dalam sisa hidupnya
Bersama mengarungi sisa-sisa episode kehidupan dariNYA…

Kepada wanita akhir zaman
Ingatlah...
Pria yang akan kau nikahi tak akan sesempurna Muhammad
Tak akan sekaya sulaiman,dengan harta-harta duniawi yang dititipkanNYA
Ia juga tak setampan yusuf, karena ia hanya pria akhir zaman
Yang akan menjadi imam di duniamu dan akheratmu...
Yang akan mendampingimu di syurgaNYA dan menjadi ayah dari para mujahid dan mujahidah rahimmu

Selamat berjuang, meraih barakah dan ridho-Nya
-Retno-

Hamidin Krazan

Hamidin Krazan

Krajan, Land in the Cloud

NYANYIAN RINDU

Kumaknakan romantis/ saat leluasa meniti singgah sunyi/ ikat bencahan raksa pikat/ lalu telusuri malam jernih/ bagai lebah/ di lembah pagi yang bening/ singkap kerudung kelopak/ sembunyi-Mu/ nyanyian rindu/ dendangkan sepenuh lagu/ hisap kasih/ penuh madu/ dalam rekah senyum-Mu// HK '95.

Kawan, beberapa tahun lalu setelah kutulis puisi 'Nyanyian Rindu' (1995), aku masih buram untuk memahami maknanya secara bening, gamblang dan focus. Meskipun dalam pemaknaan alakadarnya aku tahu makna 'romantis', aku bisa merasakan bagaimana suasana 'sunyi', akupun dapat membedakan antara suasana 'malam', keadaan 'jernih' serta 'bening', aku juga pernah meraung disiksa ganasnya 'rindu'. Namun semua itu belum tertuju pada satu hakikat makna yang sebenarnya seperti yang kuinginkan. Bertahun-tahun puisi kudiamkan dalam lembaran tak berjilid. Tapi upaya pencarian hakikat makna tak kunjung istirah.

Hingga bulan Nopember 1996 aku menikah dengan Fatiah Sukmawati. Salah satu kadoku buat istriku adalah puisi (tentunya bukan puisi ini loh...). Hingga kami dikaruniai anak pertama laki-laki Metafora Lintang (1997), anak kedua perempuan Zarra Idea (2001) dan terkini anak ketiga laki-laki Dian Ning Langitan (2011). Sehari setelah anak ketiga lahir, aku membuka FB, dan kubaca pesan Inbox darimu. Kau minta aku berbagi petuah (ha ha ha....)

Sebait “Nyanyian Rindu', anggaplah sebagai 'kado kata-kata' sekiranya dapat menyelinapkan spirit mungil yang turut serta menyusup pada saluran darah semangat dan tekadmu dalam upaya meraih mardlotillah melalui lembaga pernikahan. Amin. Alasannya, puisi ini karyaku, insya Alloh kini aku dapat menjelaskan kandungan maknanya. Itu kudulang setelah bertahun-tahun kami mengarungi perhelatan (perjuangan) dalam menjalani hidup berumah tangga. Intinya, romantika perkawinan tiada tujuan lain kecuali dalam rangka mengharap rindho Alloh.

Kita tahu, musuh setiap insan terdahsyat adalah hawa nafsu. Ketika kita masih melajang selalu dikepung oleh pletonan musuh tersebut. Apalagi setelah hidup berdua (menikah), kemudian beranak pinak. Belum lagi jika dibonusi dengan persoalan antar keluarga dan lingkungan tempat kita berada. Hawa nafsu yang ada dalam diri berhadapan dengan hawa nafsu yang ada pada diri sang istri, anak-anak, ibu mertua, tetangga, teman sekerja dst.wuadhooouww.... (istighfarlah sepanjang hayat, setiap jengkal helaan nafas).

Upaya penaklukan hawa nafsu bagi seorang dewasa yang lajang yakni dengan senjata pernikahan. Bagi seorang lelaki dewasa yang lajang maupun gadis dewasa yang belum menikah pada umumnya memaknakan 'romantis', 'sunyi' dan 'rindu' serta 'cinta', seringkali berkonotasi maksiat. Insya Alloh, melalui ikatan pernikahan makna itu akan lebih bernas dan dapat membangun arti hakiki yang orientasinya jelas! Pernikahan selain dapat: ikat bencahan raksa pikat/ .... juga untuk / hisap kasih/ penuh madu/ dalam upaya meraih ....rekah senyum-Mu

Banyak referensi tentang makna dan substansi pernikahan yang dapat ditelaah dari berbagai sumber. Namun ada satu referensi lisan yang bersumber dari piwulang guru ngaji (kita?) dulu, di sebuah mushola kampung, sekiranya pantas wejangan aku gethok tular-kan buat calon mempelai.
Katanya, ada tiga bekal yang harus dimiliki seorang lelaki dewasa setelah menikahi calon istrinya. Tiga bekal itu yaitu Kaya, Kayu dan Kaku. Pertama, seorang suami harus bertanggung jawab untuk memberikan Kekayaan. Kedua, seorang suami harus dapat Ngayomi keluarga yang dipimpinnya. Ketiga, seorang suami harus kaku atau memiliki kekuatan baik kekuatan lahir maupun batin. Kekuatan otot maupun otak. Tak lupa, dengan 3K, agar istri dibikin nggak kuku....? Selamat Menikah!